kartu prabayar

sumber gambar: detikinet

Rencana Pemerintah untuk menertibkan dan mewajibkan pemilik kartu prabayar untuk daftar (register) adalah langkah maju. Walaupun banyak komentar sumbang dan kurang setuju dengan kebijakan tersebut, karena menilai akan memperumit pemakai. Hal itu ada benarnya, namun kalau di dilihat ke depan, justru menguntungkan para pemakainya sendiri. Hal ini adalah suatu kemajuan dan manfaat yang besar akan dirasakan oleh seluruh komunitas pemakai nomor prabayar. Lebih cepat diterapkan register itu jauh semakin lebih baik pula.

Mirror Catatan

turut berduka cita

Saudara terkasih,

Pagi ini, saya menerima telefon dari Sdri. Christine Hoffman, Von-Langen-Weg 18, 48565 Steinfurt, Jerman.

Menginformasikan kalau tadi pagi, Papi tercinta dalam usia ke-77 telah meninggal dunia dengan tenang di Indonesia. Christine akan terbang besok ke Indonesia.

Marilah kita bersama-sama, Turut Berdukacita dan Berdoa, agar seluruh keluarga yang ditinggalkan, dianuhgerahi ketabahan dalam iman dan penghiburan. Dan berdoa juga untuk Almarhum agar dia dibebaskan dari segala kekurangan, selama di dunia ini dan memperoleh tempat yang layak dalam kehidupan damai abadi.

Salam duka yang mendalam saya sampaikan untuk Christine dan seluruh Famili yang sedang berduka.

Tuhan senantiasa menyertai dan memberkati kita.

mohon maaf

Memohon maaf, bukanlah hal yang mudah. Hal-hal itu kita alami sendiri dalam hidup kita sehari-hari. Mulai dari rumah, papa dan mama, kakak dan adik sampai ke lingkungan luar, orang lain, sahabat dan teman, atasan dan rekan kerja dst...

Untuk Hubungan dunia international , pertimbangan untuk meminta maaf lebih sulit lagi, karena mempertaruhkan nama negara dan rakyatnya yang belum tentu setuju dengan cara merendah itu.

Memohon maaf artinya kita mengakui bahwa kita salah dan orang lain itu benar. Karena itu untuk berani memohon maaf butuh waktu lama. Seperti Pemerina Belanda ini. Membutuhkan waktu lama sampai orang generasi yang telah mengalami perlakuan tersebut, kebanyakan telah tiada.

Pernah saya membaca sebuah artikel yang menulis bahwa memaafkan orang lain adalah sama halnya dengan berdamai dan memaafkan diri sendiri... hemm
Nah kalau kita baru memaafkan orang lain setelah kita berumur 60 tahun, terlalu lama ya? Tetapi belum terlambat kok, tidak salah kita memulai memohon maaf dan memaafkan setiap saat!



klipingku dari: Radio BBC

memiliki 4 isteri

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 isteri.
Dia mencintai isteri ke-4 dan menganugerahinya harta dan kesenangan, sebab ia yang tercantik di antara semua isterinya.

Pria ini juga mencintai isterinya yang ke-3. ia sangat bangga dengan sang isteri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu kuatir kalau isterinya ini lari dengan pria lain. Begitu juga dengan isteri ke-2. Sang pedagang sangat menyukainya karena ia isteri yang sabar dan penuh pengertian.

Kapan pun pedagang mendapat masalah, ia selalu minta pertimbangan isteri ke-2-nya ini, yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit.

Sama halnya dengan isteri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami.

Akan tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski isteri pertama ini begitu sayang kepadanya. Suatu hari si pedagang sakit dan menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati, "Saat ini aku punya 4 isteri. Namun saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan."

ISTERI KE-4: NO WAY
Lalu pedagang itu memanggil semua isterinya dan bertanya pada isteri ke-4-nya. "Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingi dan menemaniku?" Ia terdiam.... tentu saja tidak! Jawab isteri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa2 lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan2 ada pisau terhunus dan mengiris-iris hatinya.

ISTERI KE-3: MENIKAH LAGI
Pedagang itu sedih lalu bertanya pada isteri ke-3. "Aku pun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan menemani akhir hayatku?" Isterinya menjawab, "hidup begitu indah di sini, Aku akan menikah lagi jika kau mati". Bagai disambar petir di siang bolong, sang pedagang sangat terpukul dengan jawaban tsb. Badannya terasa demam.

ISTERI KE-2: SAMPAI LIANG KUBUR
Kemudian ia memanggil isteri ke-2. "Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalau aku mati, maukah engkau mendampingiku?" Jawab sang isteri, "Maafkan aku kali ini aku tak bisa menolongmu. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur. Nantiakan kubuatkan makam yang indah untukmu."

ISTERI KE-1: SETIA BERSAMA SUAMI
Pedagang ini merasa putus asa. Dalam kondisi kecewa itu, tiba-tiba terdengar suara, "Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu kemana pun kau pergi.
Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Pria itu lalu menoleh ke samping, dan mendapati isteri pertamanya di sana. Ia tampak begitu kurus. Badannya seperti orang kelaparan.
Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan engkau kurus seperti ini, isteriku."


HIDUP KITA DIWARNAI 4 ISTERI

Sesungguhnya, kita punya 4 isteri dalam hidup ini. Isteri ke-4
adalah TUBUH kita. Seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap kepada-Nya.

Isteri ke-3, STATUS SOSIAL DAN KEKAYAAN. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sebesar apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejap ketika kita tiada.

Sedangkan isteri ke-2, yakni KERABAT DAN TEMAN. Seberapa pun dekat hubungankita dengan mereka, kita tak akan bisa terus bersama mereka. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita. Dan sesungguhnya isteri pertama kita adalah JIWA DAN AMAL KITA. Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi kemana pun kita melangkah. Hanya amallah yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa kita dengan bijak serta jangan pernah malu untuk berbuat amal, memberikan pertolongan kepada sesama yang membutuhkan. Betapa pun kecilnya bantuan kita, pemberian kita menjadi sangat berarti bagi mereka yang memerlukannya.

Mari kita belajar memperlakukan jiwa dan amal kita dengan bijak.

Sumber : Tidak Diketahui

sebuah sosok teladan

Sosok Sdr. Blasius Kettenhofen - yang pernah hidup di Cina dan Indonesia, khususnya di Telukdalam-Nias dan Sipea-pea-Tapanuli.

Dalam masa mudanya telah disumbangkan dan dihabiskan untuk membangun daerah diatas. Dia banyak bicara sepadan dengan apa yang telah dia perbuat. Dalam semangat hidupnya pernah dia mengejek kita dengan lantang: "Kamu makan lebih banyak dari pada hasil kerjamu!". Maksudnya jelas dan positif, mengecam "kemalasan". Beliau juga banyak
mendidik putra-putra Nias menjadi ahli pembangunan dan tukang kebun yang tekun.

Ketika Pulau Nias di landa gempa yang dahsyat dan mematikan itu, beberapa bulan yang lalu, hasil bangunannya yg sudah tua: didaratan Nias maupun di Sumatra, ternyata tetap berdiri kokoh kuat di antara bangunan-bangunan modern di sekelilingnya yg ambruk.

Riwayat hidupnya dalam teks berbahasa Jerman di bawah lebih lengkap ditulis mengenai beliau. Kini beliau telah menda
hului kita dengan tenang, dalam umurnya yg ke-97. Tetapi dia tetap hidup dihati banyak orang yang pernah dia kenal. Teks dibawah ini, belum sempat kuterjemahkan... Namun saya catat untuk di terjemahkan dikesemptan lain.



Br. Blasius Kettenhofen

Missionar in China und Indonesien

am Mittag des 26. Juli 2005 starb in Müns
ter
unser Mitbruder Br. Blasius Kettenhofen, Kapuziner

Bruder Blasius ist tot. Er starb am 26. Juli 2005 nach einem langen Leben. Er wurde 97 Jahre alt. Fast 76 Jahre war er Kapuziner. Will man sein Leben kurz zusammenfasse
n, dann darf man sagen: Er war ein treuer Diener seines Herrn. Der Herr hat ihm sicher das Wort des Evangeliums zugesprochen: „Nimm teil an der Freude deines Herrn“ (Mt 25, 21).

Aus seiner Jugend wissen wir recht wenig. Geboren wurde er in Merzig-Mondorf im Saarland. Getauft wurde er auf den Namen Nik
olaus. Nach der Volksschule, die er von 1914 – 1922 besuchte, ging er zunächst in den Bergbau, lernte dann aber das Maurerhandwerk.

Ohne sein Handwerkszeug konnte und wollte er danach nicht mehr leben. Er nahm es überall mit, wohin er ging. Es war Ausdruck seiner Liebe zu seinem Beruf, an dem er mit ganzem Herzen hing. Auch als er am 28. August 1929 in den Kapuzinerorden eintrat, trennte er sich nicht von seiner Kelle. Oft hat er in seinen alten Tagen erzählt, wie wichtig das Handwerkszeug für ihn und sein Leben doch gewesen sei und was er alles damit in den ersten Jahren seines Ordenslebens in Bensheim, Münster, Bocholt und Krefeld ausgerichtet habe.
Doch fühlte er in sich die Berufung, Missionar zu werden. Er bat seinen Provinzialminister, Pater Methodius Fritsche, nach China gehen zu dürfen. Entsprechend dem 12. Regelkapitel des heiligen Franziskus erhielt er dazu 1934 die Erlaubnis. Ob er damals in seinem Gpäck sein Handwerkszeug mitnahm, ist nicht bekannt. Sicher aber ist, dass er als Maurer in China sehr willkommen war. Er taufte nicht, er predigte nicht, was er tat, hieß praktisch gelebtes Evangelium. Er setzte seine Fähigkeiten zum Bau von Kirchen und Missionsstationen ein. In dem Buch „Gottes Kampf auf gelber Erde“, hrsg. von P. Dr. Gonsalvus Walter, machte er sich unte
r dem Titel „Geheimnisse um den Stationsbau“ Gedanken über einen „Idealplan“ für den Bau einer Missionsstation und über alle Einzelheiten, die beim Bau einer Station zu beachten seien. In einem dicken Buch von 238 getippten Seiten, mit dem Titel: „Die letzten Blätter am Baum der Chinamission 1934 – 1952“ schrieb er seine Erlebnisse, seine Aufgaben und vieles, was irgendwie für das Verständnis der Chinamission wichtig war, bis in die kleinsten Kleinigkeiten nieder.

Nach der Vertreibung aus China durch die neuen Herren unter Mao Tse Tung war Bruder Blasius von 1952 – 1954 als Pförtner und Maurer in Bocholt tätig. Eifrig half er beim Wiederaufbau des völlig zerbombten Klosters mit Schule und Internat.

Danach machte er sich 1955 mit Bischof Gratian Grimm und vier weiteren Kapuzinerbrüdern in die neue Mission nach Indonesien auf. Von Anfang an war er darauf bedacht, sein ganzes handwerkliches Können in den Dienst der Mission zu stellen. Kaum dass die Sonne ihre ersten Strahlen auf eine Baustelle warf, rief er seine Arbeiter aus den Hütten zur Arbeit. Er achtete darauf, dass auch wirklich gearbeitet wurde und das in Angriff genommene Werk zügig voranging. „Er drückte jedem die Kelle in die Hand“, heißt eine Überschrift zu einem Artikel über ihn aus Anlass des 25jährigen Bestehens der Nias-Mission. Er erfand einen Baustil, der die Häuser, Kirchen und Schulen, die er baute, vor Erdbeben sicher machte: eine Kombination von Mauer- und Fachwerk, die ihre Haltbarkeit auch in dem jüngsten schweren Erdbeben am 28. März 2005 bewies. Br. Blasius war der Missionsbaumeister, über den es im o. g. Artikel am Ende heißt: „Die Niasser leben gern mit dem praktischen Bruder Blasius und seinem Christus.“
1984 kehrte Bruder Blasius nach Deutschland zurück. Es fiel ihm nicht ganz leicht, sich in die deutschen Verhältnisse einzugewöhnen. Zehn Jahre verbrachte er als Sakristan und Pförtner in unserem Kloster Waghäusel. Danach ging er von Rheuma geplagt nach Bad Mergentheim. Hier verrichtete er noch kleinere Arbeiten im Garten. Als er auch das nicht mehr konnte, kam er auf die Pflegestation nach Münster. Es ist gerade ein Jahr her, dass er Bad Mergentheim mit Münster tauschte. Dankbar nahm er jeden Dienst an, den man ihm schenkte. Dankbar war er dem Pflegepersonal gegenüber.
Er sagte oft, dass es gut gewesen sei, dass er nach Münster gebracht worden sei. Er betete viel und trug gottergeben alle Beschwerden. Doch konnte alle liebevolle Pflege den Zerfall seines Körpers nicht aufhalten. Krebs und Diabetes zehrten an ihm und machten seinen Traum, hundert Jahre alt zu werden, zunichte. Gott rief ihn an einem Tag, an dem alle der Meinung waren, dass es ihm gut gehe. Doch schloss er beim Mittagstisch auf der Pflegestation plötzlich für immer die Augen.
Wir beten für unseren Provinzsenior, dass Gott ihn in Frieden ausruhen lasse von seinem arbeitsreichen und segensvollen Leben.


Sumber: Kapuziner

malas menghapus e-mail


Akhir-akhir ini saya langganan pada beberapa "milis kelas jumbo", eehhh aku masuk kampoeng gajah pula, yang punya posting dalam bln Juli saja 27.594 berapa posting setiap hari? Hitung sendiri. Maka membeludaklah in box saya, itu baru dari kampoeng gajah. Belum kampoeng yang kelas jumbo lain, hihi....


haha.. dari pada keluar dari milis itu, atau repot menghapus mail, lebih baik berdamai dengan posting itu dan juga spam masuk, nggak usah dilawan dengan kekerasan deh... gimana caranya.. ya perlakukan posting dan spam itu selayaknya, dan diterima kehadirannya... Hanya ini obatnya! merubah "cara kita berpikir". Cintailah folder Spam, maka anda akan bebas dari sakit hati krn merasa kewalahan dengan posting milis dan spam atau repot dengan menghapus e-mail sampah. Folder spam ini akan bekerja untuk kita.

hemm....,
belajar dari kampung gajah juga...
maka semua
e-mail milis di filter dengan "label masing-masing (katakanalah nama labelnya = gajah, pnet dst..)". Nah.. tinggal chek label dan chek all, "report Spam", nah apa yang jadi?

Tenang...
seluruh e-mail milis masuk ke
folder SPAM, asyik... tiap e-mail yg umurnya 30 hari (harap set sesuka hati) akan terhapus oleh sistem; jadi biarkanlah Spam filter bekerja sedikit untuk kita!

Jadi sekarang
kalau mau baca e-mail aku bacanya di folder spam aja uihhhh...
perasaan membaca di
folder IN BOX dengan yang di Folder Spam sama saja kok... Kini Folder Spam ini menjadi sahabat akrab, tiap-tiap saat aku baca e-mail di folder Spam kesayangan... huehh.

Nah kalau saya pakai
Thunderbird untuk Download e-mail, biasanya e-mail di folder SPAM tidak ikut terdownload, maka ringanlah bebanku...

Kalau kebetulan e-mail dari kawan, ya... kita tinggal klik "NO SPAM" nanti otomatis e-mailnya diarsipkan kembali ke In Box. Namun aku tetap lebih suka membacanya di folder SPAM yang baik dan akrab itu... Wehhh.. yuswar yg tidak pernah menghapus mail.

peristiwa yg lalu

aku ingat tgl. 14 Mei 2005, siang,
dalam perjalanan kembali dari Puncak ke Grogol berdering hp saya, ehm dari siapa ya? Ternya dari Raymond di Nias memberi informasi, bahwa baru saja terjadi gempa susulan mohon doa! Juga mohon agar segera mencari inforamsinya dari internet, dari mana sumbernya, berapa kekuatanya.

hemm... sesampai di rumah, saya mulai menjelajah internet, cari info gempa itu di kompas belum ada, cari di detik.net juga belum ada beritanya.

eehhh hp berdering lagi, "no number calling",
"hallo..."
wah... mbak Dewi Gunawan dari Radio Deutsche Welle.

Gimana kabarnya? Kan baru saja gempa?
aku heran, "nggak kok!", jawabku.
eh aku sadar bahwa aku di Jakarta, bukan di Nias.
"ya.. ya..., benar, aku tadi siang nerima Telpon dari Raymond".
Tapi beliau pun nggak tahu berapa kuatnya gempa itu,
juga dari mana sumbernya.
ini, saya sedang mencari di internet, belum juga ketemu. "kataku".

Mbak Dewi bilang sumbernya dari Nias, dst...

Wah... bayangkan, orang sejauh itu di Jerman,
tahu persis, dari
mana sumbernya,
berapa kekuatannya dst...

Aku yang masih dekat di Jakarta aja, hanya gigit jari,
cari sana sini info... belum dapat juga, baru 10 jam
kemudian. Itulah kenyataan!

Tanöniha Banua Somasido

hmm...
aku ingat 29 maret yang lalu,
saya diminta oleh Dewi Gunawan dari
Radio Deutsche Welle
untuk menterjemahkan lagu Nias...

Wah... susah menterjemahkannya,
maklum bukan ahli bahasa sih...
tetapi jangan kuatir dalam lagu
di bawah lebih mulus versi bahasa
indonesianya...

Lagu ini pun sudah saya dengar sejak saya kecil...
tetapi tidak pernah melihat kaset atau CD
dari lagu itu...

Kemarin, seorang teman dateng dari Nias,
membawa oleh-oleh kaset Nias dan ada
lagu itu. Kok... bisa ya, nggak habis pikir...

aduh... tapi aku tidak punya alat pemutar kaset,
sialan... untung aku ada tetangga orang India,
ada tape-nya pula wah... ku pinjam...

ah.. sayang kualitas audionya kurang bagus,
saya cari tahun rekamannya... hmm nggak ada..
namun karena dasar darah nias... mau tidak mau
aku suka juga mendengarnyalah...

lebih baik jangan membandingkan kualitasnya
dengan koleksi mp3 ku yang sudah mendekati
101 GB nanti bisa bikin malas dengarnya..
Apalagi membandingkannya dengan
mp3 kiriman cucu dari Jakarta (Oline) hihihi...

Walau pun begitu,
di perantauan ada juga maknanya...
lebih dari sekedar mengobati kerinduan,
yang kemarin... ic....

Udah aku aktifkan kde Audio Recorder/Converte...
pasang kabel line-in, jadilah mp3 berdurasi 5.02 menit
dengan konversi 128 tinggal berukuran 4.727 kb.
(hati-hati, jangan download kalau tidak kuat)
cukup baca teks dan nyanyi sendiri, hihihi...

Na... anda tergoda mendengarnya?
boleh aja, tetapi pastikan koneksi
internet Anda bagus, kalo hanya modem..

hmmm... kasihan deh lhu..
berapa lama nunggu downloadnya... apalagi kalau
di warnet... hihihi... "no comment..".

klik..di sini untuk mendengar......

Pastikan anda punya pemutar mp3 entah realplayer,
winamp, terserah anda.

Selamat menikmati dan terhibur di rantau...

Info: Lagu Kenangan Nias, Laso Record
lagu: Aro'ö Zebua (bait 1), F.G. Harefa (bait 2)
Syair : Ligim Zebua

Arr: Man Harefa
Vocc: Lisbeth Zebua, Man Harefa, Dermawan Zebua



Teks ini ditulis oleh mbak Dewi Gunawan, Radio Deutsche Welle, dan dikirimkan kepada saya lewat e-mail. Terjemahan ala kadarnya dari saya sendiri (YW).



aku rindu...


dear blog,

mengapa aku tiba-tiba ingat
aku rindu pulang ke kampoeng
padahal aku baru dari sana
ya.. barusan April 2005 yg silam




hmmm...

untung ada nias island com,
aku mau baca beritamu...
sekedar pengobat rindu..


nias-ku yg malang...
engkau dilanda bencana alam...
kini engkau mengajari kami..

menghargai alam ini..

tahu kah engkau?

bila saat ini aku lagi rindu...


muenster, cuaca lagi berkabut.

pocket pc bikin sebel...


Ah... pocket pc "acer n30", yang suka bikin sebel deh.., nggak tahu, barang ini katanya mahal, untungnya nggak beli sendiri, tetapi dapat hadiah! Ya.. udah tinggal pakai doang... sebenarnya aku nggak suka barang kek ginian, tahu mengapa? aku jadi terikat sama software bawaannya, win 2003 apa-apa nggak bisa di modofikasi ke sistem lain... sebel deh.. maunya pocket pc pakai linux tetapi belum ada yang mau ngasih...

Bukan hanya itu, sesekali juga "suka hang" (langganan sih..), kayak produk induknya, hihihi..., bikin pemakainya tambah susah, cuma untungnya ada fasilitas backup, jadi semua data sama aplikasi di simpan ke SD-Card aja "wajib", kalau tidak mau repot nginstall dari PC, jadi rajin-rajinlah membuat backup kalo nggak mau kehilangan data agenda penting, e-mail terbaru dan alamat serta catatan pribadi.

Tiga minggu lalu, eh... tambah sebel dan jengkel, tiba-tiba adaptornya nggak mau ngecas lagi, habis deh tinggal gigit jari selama 18 hari, baru kemarin dapat kiriman ganti adaptor baru, gratis dari acer karena memang masih dalam umur garanti.. hihi..., kalau rusak sekali lagi bakalan masuk tempat sampah atau museum. Kalau bukan pemberian, bakal menyesal telah memilikinya. Walaupun begitu bukan tak ada rasa senangnya, dia juga sudah banyak berjasa, dia tempat membuka kamus, kalender termin, membaca produk e-sword dari tiga bahasa sekaligus dan kamus beberapa bahasa asing; enaknya dapat menjadi teman penghibur bersama winamp MP3 yg sudah kukoleksi 1 GB dalam kemasan SD-Card di saat duduk menunggu, ato potongan film ukuran kecil dapat juga diputar di sini, saat naik kereta, atau membaca e-mail yang belum sempat kubaca di rumah dan nomor telefon atau alamat kala catatan lupa di bawa.

Walaupun banyak kelebihannya, lebih banyak sebel dan keselnya, tapi apa boleh buat terlanjur sayang!
Hueeeeee....