Self-Transcendence

"Self-Transcendence", Sebuah Pencarian Keotentikan Diri:

Sumber:
kompas "Self-Transcendence", Sebuah Pencarian Keotentikan Diri Wilhelmus Gonsalit Saur

ARTIKEL "Spiritualitas Perkotaan" tulisan Anto Dwiastoro (Kompas, 28/5/2005) mengundang refleksi mendalam akan eksistensi kemanusiaan kita dalam budaya kota, budaya kapitalis, di hadapan Allah.

GERALD May (Addiction and Grace: Love and Spirituality in the Healing of Addiction, New York: Harper San Francisco, 1988) berkeyakinan bahwa semua manusia memiliki hasrat akan Allah sejak lahir. Hasrat ini merupakan kerinduan terdalam dan harta yang paling berharga pada manusia. Kita mungkin menamai hasrat ini dengan bahasa yang berbeda:
kerinduan akan keutuhan, keharmonisan, atau pemenuhan. Akan tetapi, di balik hasrat-hasrat itu ada suatu kerinduan akan cinta, untuk mencintai dan dicintai, dan untuk semakin dekat dengan Sang Sumber Cinta.

Kerinduan ini adalah hakikat roh manusia untuk berelasi dalam cinta, berelasi secara pribadi. Dalam arti ini, kerinduan akan yang transenden-imanen sekaligus merupakan sebuah kerinduan akan keotentikan diri. Tepatlah apa yang dikatakan Tony Baggot (Spirituality, Vol 2, No 5, 1996) bahwa perziarahan ke dalam diri
sebenarnya merupakan perziarahan ke dalam Allah. Di sanalah kita bertemu muka dengan Allah, di mana segala ilusi dan kepalsuan lenyap dalam benaman cinta tanpa syarat (unconditional love) dari Allah.

Bernard Lonergan, filsuf dan teolog, dalam bukunya Method in Theology (1975) menulis bahwa manusia mencapai keotentikannya dalam transendensi diri (self-transcendence). Transendensi diri berarti suatu gerak melampaui apa yang telah dicapai. Suatu gerak dari yang kurang baik menjadi baik dan dari yang baik menjadi lebih baik.

Namun, ide transendensi diri ini berbenturan dengan penafsiranan realisasi diri atau aktualisasi diri manusia modern yang lebih berciri egois and self-centered. Terhadap hal ini Walter E Conn dalam bukunya The Desiring Self: Rooting Pastoral Counseling and Spiritual Direction in Self-Transcendence (1998) menilai secara kritis akan ide realisasi diri (self-realisation) atau aktualisasi diri (self-actualisation)
dalam masyarakat modern dengan ide penyangkalan diri (self-denial) dalam agama-agama.

Ia menegaskan bahwa melalui transendensi diri, pribadi tidak dikorbankan, tetapi direalisasikan dalam kemanusiaannya yang otentik. Perealisasian diri yang sejati dalam pencarian akan makna, kebenaran, nilai dan cinta akan menolak segala bentuk dorongan egoisme yang berpusat pada diri sendiri (self-centered).

Ini mensyaratkan bahwa seseorang harus mengosongkan diri, bahkan kehilangan diri demi pelayanan cinta bagi sesama. Dalam terang transendensi diri, aktualisasi diri yang otentik bukan merupakan hasil sebuah usaha untuk memenuhi hasrat-hasrat pribadi, melainkan dari sebuah gerak yang melampaui diri untuk membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

Realisasi diri yang sejati dan pemenuhan diri yang otentik merupakan hasil dari transendensi-diri. Maka transendensi diri adalah suatu respons yang efektif terhadap hasrat dari roh manusia terhadap makna, kebenaran, nilai, dan cinta.

Namun, hasrat untuk transendensi diri ini terbentur oleh unsur tidak sadar (unconscious) dalam diri manusia. Luigi M Rulla (lihat David Couturier. "The Capacity to Promote Justice," Human Development 6/3, 1985) berkeyakinan bahwa unsur tidak sadar (unconscious) dapat memengaruhi kapasitas kita untuk menginternalisasikan nilai (value) dan sikap (atitude).

Pengaruh unsur tidak sadar ini melahirkan inkonsistensi-inkonsistensi dalam hidup keseharian, antara diri ideal (ideal self) dan diri aktual (actual self). Hal ini dengan jelas terungkap dalam artikel "Absurditas Intelektual" Yasraf Amir Piliang (Kompas, 26/5/2005). Ia menulis, "Tidak masuk akal melihat aneka tindakan para akademisi dan intelektual ini yang seakan 'bodoh', tanpa pertimbangan akal sehat dan perhitungan rasionalitas, sehingga menciptakan semacam absurditas intelektual-intellectualis absurditas". Ini membuktikan bahwa "modal intelektual" tidak menjadi jaminan utama untuk menjadi pribadi yang integral dan otentik. Siapa pun kita, entah dosen, pemimpin agama, politikus, pejabat negara, para menteri, wakil presiden dan presiden; orang kaya maupun orang miskin, terkena oleh pengaruh hukum unsur tak sadar (uncounscious) ini. Maka tepat apa yang dikatakan Ahmad Syafii Maarif bahwa kita masih tertatih-tatih dalam upaya memperbaiki masa depan bangsa ini akibat belum satunya antara kata dan laku (Kompas, 1/6/2005).

Pendidikan bukan hanya soal kemampuan untuk menguasai informasi, teknologi, melainkan suatu kemampuan untuk menginternalisasikan nilai dalam kehidupan. Proses penginternalisasian nilai ini perlu menyentuh unsur-unsur tidak sadar (uncounscious) dalam tiap pribadi sehingga ia mampu secara bebas untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya serta untuk mengenal distorsi-distorsi kesadarannya.

Pendidikan mesti membantu orang untuk memperluas wilayah kesadarannya (counscious) dan mempersempit wilayah tak sadar (uncounscious) sehingga mampu untuk memilih nilai yang sejati. Unsur tak sadar ini sangat memengaruhi kita dalam proses mengalami, memahami, menilai, dan mengambil keputusan. Unsur tak sadar sering mengaburkan kemampuan kita untuk memilih kebaikan yang sejati dan kandas pada "yang tampaknya baik" karena dipengaruhi oleh tuntutan kebutuhan-kebutuhan (needs) yang melekat pada diri kita sebagai manusia. Misalnya kebutuhan akan rasa aman bisa memaksa orang untuk korupsi, mencontek, manipulasi,
atau membunuh orang lain, dan lain-lain.

Tantangan untuk mentransendensikan diri bisa semakin rumit dalam kehidupan masyarakat kota. Ada begitu banyak kemungkinan untuk kehilangan integritas dan keotentikan diri. Gaya hidup kota di zaman ekonomi yang berciri kapitalis tanpa sadar telah membentuk suatu "pola pikir kapitalis" yang menekankan kebutuhan akan kesuksesan, kekayaan, persaingan, kontrol, dan kuasa. Ini menjadi suatu kebutuhan baru yang dicari dan diidamkan banyak orang. Tanpa sadar perilaku orang pun
terbentuk dalam sistem kebutuhan ini. Orang berlomba mengejar sukses, popularitas, dan kekuasaan tanpa memperhitungkan nilai lain dan orang lain. Itulah kebutuhan yang sedang dan terus dipromosikan secara jelas yang merasuk-masuk ke alam kesadaran kita yang sebenarnya memiliki distorsi-distorsi yang merongrong hakikat dan martabat manusia sebagai pribadi dan kelompok.

Akibatnya, nilai manusia diukur berdasarkan kesuksesannya, kekayaannya, kekuasaannya, dan kepopulerannya. Manusia dilihat bukan dari hakikat dan martabatnya, melainkan dari fungsi (function) dan perbuatan (doing). Maka relasi dengan sesama lebih berciri subyek-obyek, relasi kepentingan, relasi bisnis. Cara orang berkomunikasi pun berciri subyek-obyek, monolog, bukan dialog yang
menuntut suatu syarat penghargaan terhadap yang lain pada inti kemanusiaannya. Cara berkomunikasi seperti ini hanya menciptakan pembodohan, kompromi, dan ketergantungan, padahal tindakan komunikasi bisa menjadi suatu sarana transendensi diri, transformasi diri dan pencerahan.

Relasi-relasi subyek-obyek ini terus menerobos masuk dalam kehidupan relasi kemanusiaan kita, dalam keluarga, sekolah, pekerjaan, dan pemerintahan. Manusia dilihat sebagai obyek, seonggok daging yang tidak memiliki perasaan dan pikiran. Ia dipandang sebagai "yang umum" dan bukan "yang unik". Relasi kita lebih berciri "umum" daripada pribadi. Akibatnya, manusia teralienasi dari dunia sekitarnya dan
dirinya sendiri. Ia mengalami krisis identitas. Ia hidup tanpa identitas. Ia mencari identitasnya dalam kekuasaan, kekayaan, popularitas. Ia menjadi "hamba" dari hasratnya sendiri.

Bersamaan dengan itu, budaya pasar terus menawarkan kebutuhan-kebutuhan baru dan gaya hidup baru mempermainkan manusia yang bingung kehilangan identitas diri ini. Fantasi untuk menjadi kaya dan berkuasa mengiring orang untuk terlibat dalam kolusi, korupsi, dan berbagai jenis manipulasi lainnya. Dalam arti ini, semua kita yang hidup dalam "cara pikir kapitalis" amat rawan dan rapuh untuk tergoda
menghancurkan integritas dan keotentikan diri.

Ketika ia teralienasi dari dirinya sendiri dan dari masyarakat, ia mencari dasar keberadaannya. Ia mencoba mencari dalam agama-agama, tetapi di sana ia juga teralienasi dari kehidupan agama yang sering berciri legalistik dan "obyektif", di mana sang pribadi ini tidak bisa menempatkan pengalaman kemanusiaannya yang rumit dan kompleks. Agama dengan ciri legalistik dan "obyektif" ini lebih mencari kepuasan diri dan keamanan diri daripada berziarah bersama mereka yang lagi bingung dalam pencarian makna kehidupan yang rumit dan kompleks.

Kecendrungan agama sebagai institusi untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan eksistensial manusia sering tidak banyak membantu karena tidak mau mendengar. Orang-orang ini tidak dihadapi secara pribadi, melainkan dihadapi dengan berbagai doktrin dan ajaran suci lainnya.

Yang dicari manusia dalam situasi "krisis" ini adalah hubungan yang bersifat pribadi, di mana harkat dan martabatnya dihargai dan dirangkul. Mereka ingin didengarkan, bukan dihakimi sebagai makhluk yang unik dan pribadi. Relasi yang baik dengan sendirinya membawa penyembuhan dan pencerahan. Kekosongan inilah yang memungkinkan orang untuk mencari dasar keberadaannya dalam Allah (imanen dan transenden) dan memaknai kehidupannya secara baru dalam terang pengalaman
perjumpaan pribadi dengan-Nya. Perjumpaan dengan Sang Pribadi yang Lain ini akan mentransendenkan cara ia memahami dirinya, orang lain, dan alam sekitarnya termasuk cara beragamanya.

Bernard Lonergan menyebut pengalaman perjumpaan yang intim ini sebagai being in love with God. Pengalaman ini membawa orang pada suatu pertobatan atau transendensi diri, suatu pertobatan yang lahir dari relasi cinta. Dalam relasi yang intim ini kebaikan yang terpendam akan mengalir dengan sendirinya karena ia telah menemukan identitas dirinya di hadapan Allah sebagai Subyek, yang unik dan khas.

Hubungan pribadi dengan Allah itu mengantar ia menemukan kembali identitas dirinya yang sejati di hadapan Allah. Dalam doa (meditasi atau kontemplasi) ia menemukan siapa Allah sebenarnya dan siapa dirinya. Dalam pergumulan relasi pribadi dengan Allah itu ia memperbarui gambarannya (image) akan Allah dan gambaran dirinya sendiri dan bersedia untuk menanggung konsekuensi dari keintiman
relasi itu.

Relasi cinta itu melahirkan penyerahan (surrender) total kepada Allah dan kesediaan untuk menerima diri dan realistis dalam hidup. Penolakan terhadap realitas kemanusiaan kita yang kaya akan potensi untuk bertumbuh dan sekaligus rapuh dan mudah terpecah akan melahirkan ilusi-ilusi yang menggerogoti keotentikan diri.

Ilusi-ilusi yang kita bangun dalam "cara berpikir kapitalis" melahirkan kepribadian-kepribadian yang palsu. Kita membangun diri dalam bayangan yang rapuh dan membiarkan ilusi itu mengilas kita sendiri. Kita seperti orang yang kehilangan identitas diri dan mengembara dalam pencarian yang tiada hentinya di luar diri. Sebenarnya kita dibelenggu oleh hasrat kekuasaan, popularitas, dan kekayaan yang tidak mengantar kepada keotentikan diri (true self).

Kembalilah ke kedalaman dirimu, dan di sana Allah akan berkisah tentang cinta dan hasrat-Nya untukmu dan hasratmu untuk dirimu sendiri, untukNya, sesama dan alam sekitarnya.

Wilhelmus Gonsalit Saur Penulis Sedang Belajar dalam Bidang Spiritual Direction (Bimbingan Rohani) di Melbourne College of Divinity, Melbourne.

Anda pengunjung ke:
by autoren-gedichte.de

kenali watak anda

Mereka yg suka memeluk bantal biasanya berjiwa seni. Mereka mempunyai penghargaan yg tinggi terhadap lukisan, musik dan sastra. Perasaan mereka halus dan jiwa mereka romantik. Kadangkala ada yg boleh membaca peristiwa yg akan berlaku melalui mimpi. Mereka
juga sangat prihatin terhadap kesusilaan.

-- 2) Menggunakan Banyak Bantal
Mereka biasanya kurang keyakinan.Dalam kehidupan seharian mereka memerlukan banyak pendamping. Mereka jarang membuat keputusan sendiri, sebaliknya mendapatkan pandangan orang lain.

-- 3) Tidur Dengan Satu Bantal
Mereka bukan jenis mengada-ngada dan boleh menerima keadaan seadanya. Mereka juga membuat keputusan berdasarkan fikiran dan bukan nafsu semata-mata.

-- 4) Meletakkan Bantal Di Bawah Kaki
Mrk mempunyai sifat kurang baik. Mereka jarang bergaul dgn org ramai, malah kaku dalam pergaulan. Ini menyebabkan mereka cenderung bersifat egois. Mereka juga gemar menempuh jalan pintas utk mencapai
cita2. Mereka tdk suka berusaha.

-- 5) Tidur tanpa Bantal
Mereka memiliki sifat percaya diri yg sangat tinggi. Kadangkala sifat percaya diri ini akhirnya akan membawa kepada sifat ego.

-- 6) Tidak punya bantal
Kasian deh lo..

-- 7) Nemu bantal
Beruntung deh lo...

-- Tidur gigit bantal.
Kelaparan deh lo...

-- 9) Tidur sambil lempar bantal.
Kesurupan setan..karena sering nonton acara PENAMPAKAN

-- 10) Tidur di bawah bantal.
Mati konyol... aja huehuehue...


SITUS MILIS : dsm_chat

Anda pengunjung ke:

by autoren-gedichte.de

Beberapa Ikon Waze

Seturut level pengedit petw waze memilik beberapa ikon untuk para pengedit peta sebagai berikut:







__oo0oo__




sejenak ber-"menung".

...dalam keriuhan perjuangan hidup kita, mungkin situs di bawah ini dapat membawa kita sebentar menemukan kekuatan baru untuk berjuang.
Silakan masuk ke situs ini, lalu klik bagian view presentation. On-kan volumenya. Selamat menikmati.
Mohon sedikit bersabar untuk yang memakai modem dan dial connection, sebab memerlukan waktu untuk down-load.


Tuhan memberkati.

Anda pengunjung ke:
by autoren-gedichte.de

sekedar ber humor

Siapa Pernah Lihat Burung?

Seorang pastor asal negara asing mempunyai hobby memelihara burung. Suatu pagi pastor mendapati burungnya dicuri orang. Karena sangat sedih, sang pastor bermaksud pada misa minggu depan menanyakan masalah ini ke pada umat. Supaya tak mencolok, sengaja pastor menyiapkan khotbah berthema "Jangan mencuri". Pada moment yang tepat pastor bertanya ke pada umat di gereja dengan bahasa Indonesia-nya yang belum fasih betul:

"Siapa menyimpan burung, harap berdiri". Mendengar pertanyaan ini, maka seluruh jemaat laki-laki berdiri.

Menyadari ada kesalahan komunikasi, sang pastor asal luar negeri itu buru-buru mengoreksinya:
"Maksud saya ..... siapa pernah lihat burung?". Maka seluruh jemaat wanita berdiri.

Sang pastor mulai panik melihat pertanyaannya keliru lagi, dengan muka merah karena malu beliau bertanya lagi:
"Maaf, maksud saya ..... siapa pernah lihat burung yang bukan miliknya?". Maka separuh jemaat wanita berdiri.

Muka sang pastor makin merah, kepanikannya menjadi-jadi:

"Maaf, maaf ......maksud saya ....... siapa pernah lihat burung saya?". Segera saja semua anak altar berdiri.


tertawalah, bikin awet

Sudah pernah dengar ’laughing everyday keeps the doctor away’ ?

Tertawa memang salah satu bentuk pengekspresian diri yang paling menyenangkan, sekaligus juga merupakan salah satu misteri universal. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa tertawa bermanfaat banyak untuk kesehatan Anda. Dengan melakukan hal satu ini, Anda dapat melepaskan emosi dan ketegangan yang tertahan. Simpanan emosi dalam diri Anda pada saat marah, takut, sedih, stress, atau bosan yang harus disalurkan seakan menemui ’pipa’ yang cocok dengan tertawa. Apalagi kalau bukan karena tertawa merupakan salah satu alternatif terbaik untuk menemukan jalan keluar dari ketegangan.

Bagaimana sih sebenarnya tertawa bisa sebegitu penting dan menjadi obat awet muda yang manjur? Saat Anda terangsang untuk tertawa, otak menekan Anda untuk melakukan dua hal yang simultan. Pertama adalah visual, yang terdiri dari gerakan muka khusus, kedua adalah phonic yang mengeluarkan bunyi tertentu. Selama tertawa, ada banyak perubahan dalam banyak bagian tubuh termasuk tangan, kaki dan otot. Lima belas otot muka berkontraksi dan terdapat rangsangan elektrik pada sebagian besar otot mulut.

Dalam keadaan tertentu, pembuluh air mata terangsang, sehingga selagi mulut terbuka dan tertutup ada suatu dorongan untuk menghisap udara yang cukup, sehingga muka memerah dan mata berair.

Penelitian medis pun mengemukakan bahwa dengan tertawa, Anda akan mendapatkan keuntungan psikologi terhadap kesehatan. Tertawa yang merupakan respon psikologi terhadap humor akan membuat Anda lebih bisa menangani sesuatu yang sulit dengan lebih tenang secara emosional. Bila masih penasaran apa saja yang bisa dilakukan oleh ’si tawa’ ini, boleh Anda cek sendiri di bawah..

1. Penghilang stress
Tertawa yang berasal dari dalam hati dan bukan sekedar basa-basi belaka akan mengurangi tingkat stress tertentu. Bukan itu saja, tertawa bahkan juga menumbuhkan hormon. Ini sangat bagus karena hormon stress itu sendiri akan menekan sistem kekebalan, sehingga meningkatkan jumlah platelet (sesuatu yang dapat menyebabkan gangguan dalam arteri) dan meningkatkan tekanan darah Anda. Jadi rajin tertawa menghindarkan Anda dari serangan hipertensi.

2. Penebal kekebalan tubuh
Tertawa pada dasarnya akan membawa keseimbangan pada semua komponen dalam sistem kekebalan tubuh Anda. Dengan sistem kekebalan tubuh yang semakin kuat, penyakit tidak mudah menghampiri, sehingga tertawa bisa menjadi ’vitamin’ tambahan yang menjaga tubuh Anda rentan penyakit.

3. Penambah jumlah oksigen
Tertawa akan meningkatkan aliran darah sekaligus juga oksigen dalam darah, yang dapat melancarkan pernapasan Anda. Bagus untuk Anda yang menderita asma. (hanyawanita.com)

Istilah pada Posting

Dear all,

Pengetahuan ttg istilah2 yg dipakai berbagai member saat posting:

OOT: Out Of Topic
VOOT: Very Out Of Topic
WTB: Want To Buy
WTS: Want To Sell
AFAIK: As Far As I Know
CMIIW: Correct Me If I'm Wrong
IMO: In My Opinion
IMHO: In My Humble Opinion
Thx: Thanks
TIA: Thanks In Advance
LOL: Lots Of Laugh
ROTFL: Rolling on The Floor Laughing
SOL: Sorry One Liner
AMDG: Ad Majorem Dei Gloriam
MGBU: May God Bless You

Salam,

Pilihan Berani

(Orang lahir sebagai “anak”, tetapi harus belajar sebagai “saudara”) begitu menggugah dan inspiratif, membuat saya semakin pelan-pelan membaca kalimat-kalimat berikutnya. ‘Belajar bergardian dan menjadi gardian’, itu sudah biasa pikirku dalam hati, tetapi ungkapan ‘Belajar sebagai saudara ‘, rasanya masih langka kedengarannya. Sekurang-kurangnya untuk saya pribadi. Saya menduga bahwa ungkapan ini tidak akan kalah populernya dengan ungkapan : “Kita bersaudara bukan karena hubungan darah tetapi karena hubungan air : (baca :satu baptisan). Kita bersaudara bukan karena hubungan darah tapi hubungan ‘udara’, hubungan ‘nafas’ atau ‘spirit’ atau ‘semangat’ (baca : semangat fransiskan) Kita bersaudara bukan karena hubungan darah tapi hubungan ‘darat’ (baca : mendarat tidak hanya sebatas spekulasi yang mengawang). Persaudaraan kita berangkat dari komunitas dan mendarat di ‘lapangan’. Dan jangan lupa juga supaya sama-sama ‘mendarat’. Ha ha ha ha..... Memang, berani atau tidak, kita sudah lahir sebagai ‘anak’ dan sudah belajar juga sebagai ‘saudara’ tetapi berani memilih lahir kembali sebagai ‘saudara’ ? He he he he……Siapa takut ????????? Demikian dulu kami renungkan secara sederhana dalam komunitas kami.

Dalam poin kedua, saya berhenti agak lama ‘mengunyah’ kalimat ini ; «Allah kita yang Tritunggal berhakekat hubungan, berwujud kesatuan bebas Pribadi ». Allah Tritunggal berbisik lembut mengajak untuk berani bertobat dari pribadi yang dimandulkan oleh egosentrisme dan egoisme ke pribadi yang disuburkan oleh kesatuan dan kebebasan sosial dan universal. Berani membongkar Tirani Diri Sendiri untuk siap dan rela dibangun kembali oleh SANG PEMBANGUN untuk menjadi pribadi yang subur dan menyuburkan hubungan kesatuan dan kebebasan penuh kasih, sekurang-kurangnya secara komuniter. Keberanian untuk membongkar Tirani Diri Sendiri kiranya menjadi tahapan yang sangat mendasar, primer dan signifikan untuk kelahiran baru sebagai saudara. Pada saat yang sama, keberanian ini juga sekaligus menerangi dan menyucikan hati dari segala sesuatu yang menghambat hubungan penuh kasih dengan saudara. Contoh kongkrit dan aplikatif pasti bisa disharingkan saudara Kornel. Gitu kan Kornel ? Kog diam aja sih kamu sekarang ? Sariawan ya ?

“Tak terbilang banyaknya “pilihan berani” yang dapat membangun Kerajaan Allah. Apakah tidak mung­kin setiap persaudaraan Ordo bersama mendalami tantangan-tantangan khas ini dalam kapitel setempat dan setiap bagian Ordo membahasnya di dalam pertemuan regio? Halaman-halaman Ordo di internet memberikan kesempatan luar-biasa untuk berbagi hasil pemikiran saudara de­ngan segenap Ordo.”

Demikian tertulis dalam bagian kesimpulan dari surat edaran ini. Jadi masih banyak “pilihan berani” yang masih terbuka kita sharingkan bersama. Dan sekiranya ada mailing-list persaudaraan kita sedunia, nampaknya menarik juga untuk mengikutinya. Mungkinkah kita bisa mengusulkan supaya ada mailing-list sedunia? Kita berharap ada komentar panitia mailing-list kita ini. Karena boleh jadi usulan ini ‘impossible’ dan terlalu "berani memilih" atau kurang relevan.

Mungkin ada saudara yang mau melanjutkan ke point – point berikut atau ada yang rela menanggapi. Bagian yang sedang digeluti saudara Hilarius Kemit juga ada pada point-point berikutnya. Mungkin ada hubungannya dengan “Pisang Ambon”. Dan mungkin saudara Sirilus setuju dengan salah satu butir nasehat surat edaran ini yakni membangun satu komunitas dekat dan bersama dengan orang miskin dan terpinggirkan misalnya dekat dengan orang-orang gila. Oke saya cukupkan dulu sampai di sini.

Salam,

(Sdr Hiasintus Sinaga)



Menemukan Mutiara

Setelah menyelesaikan artikel "Sukar Merasa Bahagia" terasa masih ada sesuatu yang mengganjal di hati. Sepertinya belum mendapatkan 'dessert' setelah menyelesaikan 'the main course'. Sepertinya belum ngopi atau merokok setelah menikmati makanan yang lezat dan pedas.

Kemudian sekilas saya teringat kata-kata Mother Theresa, dan saya sungguh tak ingat persis kata-katanya itu - dan agak segan pula untuk mencarinya - yang intinya: "Pada akhirnya, masalah apapun yang engkau hadapi, sebenarnya bukanlah masalah antara engkau dengan orang atau keadaan tersebut, melainkan antara engkau dengan Tuhan."

Kembali kepada tulisan de Mello, kata-kata itu dapat disejajarkan dengan mengatakan masalah apapun yang menjadi "mimpi buruk" yang membuat engkau tidak berbahagia pada intinya yang paling dalam adalah masalah relasi engkau dengan Tuhanmu (apakah beres atau bermasalah). Mimpi buruk itu adalah "attachment" atau keterikatan yang menjadi beban kronis yang tidak perlu. Dengan "detachment" atau "kenosis" orang mengosongkan atau membebaskan dirinya dari beban batin yang berat tersebut.

Dengan kata-kata Mother Teresa itu menjadi jelas kata-kata Yesus yang mengundang manusia memasuki relasi dengan Dia: "Marilah kepadaKu semua yang berbeban berat..." dan menyerahkan beban itu ke bawah kaki salibNya. Beban itu akan disatukan dengan korban salib sehingga akhirnya menjadi ringan: "kuk yang Kupasang itu enak" artinya tidak menyakitkan dan "bebanKu pun ringan"...

Mengapa beban batin yang berat dan kuk yang menyakitkan bahu itu terasa ringan dan enak saat kita memasuki dimensi illahi yaitu dalam relasi dengan Tuhan? Karena Tuhan meminta kita untuk memindahkan beban itu dari hati kita kepada salibNya. Alih-alih kita terus memikulnya maka beban itu diambil alih oleh Tuhan. Kita diminta untuk "melepaskan beban" itu dan 'what's that supposed to mean?'... apa makna kata-kata itu?

Bila kita bermasalah dengan seseorang, seperti marah, kesal, benci, curiga, sakit hati, dendam, maka makna melepaskan beban "mimpi buruk" itu berarti dengan memaafkan orang tersebut. Kedua, kemudian dengan mendoakan orang itu. Inilah inspirasi reflektif daripada sabda Yesus sendiri pada saat tergantung di kayu salib pada detik-detik menjelang akhir hayatNya: "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya."

Ya, mereka memang benar-benar tidak tahu, karena merekapun dibius oleh "mimpi buruk" mereka masing-masing. Mereka mengira dengan melakukan perbuatan yang menyakitkan kita itu mereka akan mencapai kepuasan yang secara keliru diidentikkan dengan kebahagiaan.

Para imam dan imam agung itu pun yakin bahwa Yesus yang penghujat Allah itu harus dimatikan supaya kemurnian agama Yudaisme tidak ternoda oleh kemusyrikan. Bagi mereka lebih baik satu orang mati buat semua daripada semuanya binasa karena ajaran sesat orang itu.

Maka kitapun semakin dapat mengerti mengapa seorang radikalis fanatik mampu membunuh sesama 'atas nama agama' karena terbius oleh mimpi akan memperoleh nikmat surga bila mereka melaksanakan "tugas mulianya" itu dengan sebaik-baiknya.

Tuhan memberi amanat melalui doa Bapa Kami bahwa kita harus mengampuni sesama supaya kita berhak (entitled) memperoleh pengampunan dari Tuhan. Kata "seperti" mempunyai konotasi "get equal" atau "quid pro quo" yaitu untuk mendapat A engkau harus memberi B. Bila B tidak diberi maka A pun tidak bisa diperoleh. Ini transaksi yang sangat legal atau sah secara hukum. Just that simple! Betapa sederhananya!

Maukah kita terbebas dari beban yang menghimpit hati kita? Harganya ialah kita harus mengampuni orang dan situasi buruk yang menyakitkan kita. Atau dengan kata yang lebih sederhana ialah untuk mulai menerima orang atau keadaan buruk itu "sebagai apa adanya" tanpa penghakiman apapun (kesal, sedih, benci, takut) dari pihak kita. Kita dikecewakan oleh pasangan hidup kita, maka terimalah dia "apa adanya" seperti dulu pertama kali bertemu dan menerima dia seperti "apa adanya". Kita terhimpit dan merasa sengsara karena mengidap penyakit kronis yang tidak kunjung sembuh, terimalah keadaan itu "apa adanya" dan angkat ke dimensi illahi yang lebih tinggi ke salib Tuhan dan stop "menyayangi" penyakit tersebut dengan terus membahasnya kepada siapapun yang kita jumpai. "Kamu tidak tahu sih, saya kan kena DB, gula saya di atas 300 dsb," itu itu saja yang dibahas kepada siapapun yang dijumpai.

Kisah Si Anak Hilang dari Lukas itu juga memberikan jawaban yang jelas mengenai 'metanoia' si anak durhaka tersebut. Ia mengalami kesusahan yang luar biasa. Anak kaya manja yang biasa hidup dan makan enak, harus mengalami keadaan terhina, menjadi budak dan harus survive dengan mencuri dan makan pakan babi. Jadi derajatnya telah jatuh sedemikian rupa sehingga hanya sejajar dengan babi saja! Ia sadar bahwa masalahnya bukan masalah "makan pakan babi" (itu hanya akibat) karena sumber masalahnya ialah "pemutusan relasi" dengan bapanya. Itulah titik awal mula segala penderitaannya - setelah sejenak menikmati masa berfoya-foyanya. Ia sadar bapaknya tidak pernah tega memperlakukan orang-orangnya sebagai budak, atau sampai memaksa mereka mencuri makanan babi karena tidak diberi upah cukup atau konsumsi. Maka ia memutuskan untuk "memperbaiki relasi" dirinya dengan bapanya, bahkan at all cost, termasuk "tidak dianggap sebagai anak" melainkan sebagai "pekerja upahan" saya. Ia tidak yakin bapanya akan mengampuninya, tetapi masih ada setitik harapan untuk diterima sebagai pekerja. Bagi dirinya itu sudah cukup karena pasti tidak akan kelaparan atau harus mencuri makan pakan babi. Dengan keyakinan dan tekad bulat itu ia "kembali kepada bapanya." Suatu metanoia memang!

Dan di sinilah kita menyaksikan bahwa hukum ini bersifat timbal balik. Begitu mereka yang berada di dimensi yang lebih rendah mengangkat masalahnya kepada pihak yang memiliki dimensi rohani yang lebih tinggi, maka masalah itu langsung menjadi lebur. Mengapa? Karena siapapun yang memiliki dimensi rohani yang lebih tinggi tidak mungkin untuk "tidak memaafkan". Just impossible! Kalau ia tidak memaafkan maka ia justru turun dan "get even" dengan orang yang dimensi rohaninya lebih rendah itu. Itu baru bicara soal relasi antara sesama manusia, bagaimana lagi dengan rekonsiliasi dengan Tuhan. Tuhan tidak mungkin untuk tidak mengampuni manusia, tetapi soalnya apakah manusia itu sendiri sudah berubah melakukan metanoia untuk mengampuni sesama dan juga mengampuni dirinya sendiri. Banyak lho orang yang bisa mengampuni kekurangan orang lain, tetapi sangat sukar mengampuni kesalahan-kesalahannya sendiri dari masa lampaunya.

Di samping kita melihat hukum tak terlelakkan bahwa orang yang minta ampun pasti diampuni oleh pihak dengan dimensi rohani yang lebih tinggi kita juga melihat hal lain. Kita melihat bahwa si Bapa anak hilang itu justru mulai dengan memulihkan status anak durhaka itu menjadi anak. Ia diberi baju, kasut dan cincin, semuanya perlambang sebagai anak dan bukan budak. Di sini kita belajar bahwa 'pengampunan' itu memiliki nilai spiritual yang lebih tinggi dari pembalasan dendam, apalagi 'hukum taurat' yang bersifat 'get equal' atau 'vindikatif". "Mata ganti mata, gigi ganti gigi". "Noli me tangere." (jangan sentuh aku). "Engkau menyerang aku, engkau aku habisi". Sama sekali tidak ada toleransi, sama sekali tidak ada pengampunan; yang ada hanya iri hati, dengki, dan nafsu membalas dendam.

Mutiara yang hilang itu ialah menemukan kebenaran bahwa "kebahagiaan hanya ada bila manusia selalu mau berdamai dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan dirinya sendiri." "Carilah dulu Kerajaan Allah, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu."

Kerajaan Allah itu ada di dalam 'sacrosactum' yang paling dalam di dalam batin manusia di mana Tuhan yang immanen menjadikannya sebagai kenisahNya, karena di sana hanya ada kedamaian dan cinta kasih sejati. Bila manusia mau 'diving inward' menuju 'sakristi pribadi' itu maka di sana ia pasti menemukan Sang Juru Selamat, yaitu Sumber Segala Kebahagiaan. Dan setiap orang mempunyai sakristi itu di dalam hatinya yang terdalam.

Persoalan terakhir ialah bagaimana caranya menyelam ke dalam 'inner sanctum' tersebut? Awal Mazmur telah membuka rahasianya: 'yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN dan yang merenungkannya siang dan dalam.." Kata kunci bukan terletak pada Taurat tetapi pada kata "merenungkannya" siang dan malam. Artinya terus menerus -setiap saat menggali dan menghayati inspirasi dari firman Tuhan. "Tansah eling" demikian falsafah Kejawen, "zen meditating" demikian falsafah Buddhist Jepang. Semuanya merujuk kepada kearifan spiritual yang sama dengan senantiasa eling kepada firman Tuhan, dalam hal ini memelihara relasi yang baik dan benar dengan Tuhan, sesama (lingkungan) dan diri sendiri, manusia dapat terus menjaga 'kontinuum' kebahagiaannya.

Mang Iyus (yang lagi mendem)

milik para penjudi


Bekas mobil Paus telah dibeli oleh Big Bos Kasino Golden Palace Mr. Richard Rowe, ia melakukan ini sebenarnya untuk tujuan promosi bagi Kasino nya. Dgn memenangkan lelang tsb nama Golden Palace Casino akan jadi lebih mencuat dan lebih dikenal diseluruh dunia. Disamping itu ia berhasrat untuk memanfaatkan mobil ini sebagai daya tarik bagi para penjudi di casino nya. Para tamu VIP dari Casino akan dijemput oleh “mobil suci” dari Paus, siapa tahu dgn naik mobil azimat tsb hokie nya bisa jadi naik jadi berlipat ganda.

Kasino Golden Palace memang sangat pinter sekali melakukan promosi, antara lain ia telah membeli hak nama dari bayi kembar tiga yg dilahirkan pada tgl 25.4.2005 dimana ketiga bayi tsb di wajibkan untuk memakai nama Golden Palace Casino 1 s/d 3 untuk ini Ibu dari bayi kembar tiga tsb mendapatkan imbalan sebesar US$ 12.000. Dan sejak saat tsb banyak sekali orang yg menawarkan kesediaannya untuk merubah namanya menjadi Golden Palace Casino. Sumber (Online-Spiegel 6.5.2005)

http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=170160

Kasino Beli Mobil Paus Rp 2,3 M
BERLIN - Mobil Volkswagen Golf bekas yang pernah dimiliki oleh Paus Benediktus XVI terjual dengan harga cukup tinggi dalam sebuah lelang online perusahaan eBay dua hari yang lalu (5/5). Kasino Golden Palace di Austin, Texas, Amerika, membuat palu lelang diketukkan pada harga USD 244.000 (sekitar Rp 2,3 miliar).

Mobil keluaran tahun 1999 berwarna abu-abu metalik tersebut ditawarkan oleh Benjamin Halbe, 21, yang berasal dari kota Olpe di wilayah barat Jerman. Benjamin mengatakan bahwa dia membeli Volkswagen yang dilengkapi dengan alarm antimaling itu seharga EUR 10.000 (sekitar Rp 122 juta) pada Januari lalu.

Diler tempatnya membeli mobil itu menjuluki Volkswagen tersebut sebagai "mobil surgawi". Mobil itu dia beli saat Ratzinger masih mejabat kardinal di Jerman. Benjamin dikabarkan menjual mobil tersebut melalui lelang online saat dia terbaring di rumah sakit karena penyakit gastritis (radang lambung).

"Pertama-tama saya akan membeli mobil lagi dan kemudian pergi berlibur," katanya setelah menjual mobil tersebut dengan harga 24 kali lipat itu. Speedometer mobil berpintu lima tersebut menunjukkan angka 75.000 km (47.000 mil). Selain itu, Benjamin menunjukkan beberapa surat registrasi atas nama Joseph Ratzinger yang sekarang bergelar Paus Benediktus XVI.

Kasino pembeli mobil manual yang dilengkapi AC tersebut juga pernah membeli beberapa barang cukup unik. Bahkan, dalam website-nya, ditampilkan sandwich panggang keju yang tekstur gosongnya secara tak sengaja dianggap mirip Perawan Suci Maria. Selain itu, terdapat potongan ayam panggang yang menyerupai wajah mendiang Paus Johannes Paulus II.

Juru bicara eBay di Jerman Daphne Rauch mengatakan bahwa harga mobil tersebut telah menjadi dua kali lipat selama 24 jam pelelangan. Ada sekitar 8,4 juta peminat yang mengunjungi website eBay dalam sepuluh hari pelelangan. Lelang ditutup Kamis lalu (5/5) bersamaan dengan Hari Kenaikan Yesus.

"Saya belum pernah menyaksikan yang seperti ini," kata Rauch. Namun, dia belum tahu kapan orang kasino tersebut akan membawa mobil itu. Tawaran terendah untuk mobil tersebut adalah EUR 9.999 (sekitar Rp 121,9 juta). Penawar sebelumnya dengan harga 1 juta euro (sekitar Rp 12 miliar) ternyata tidak serius.

Sementara itu, menurut kantor berita AFP, Paus Benediktus XVI mungkin belum pernah mengendarai mobil itu. Menurut sumber dari gereja Katolik, paus tidak mempunyai surat izin mengemudi (SIM). Mobil itu dibeli oleh sekretaris pribadi paus di wilayah selatan Jerman, yang kemudian membawanya ke rumah tinggal kardinal. Setelah itu, Volkswagen tersebut dicatatkan atas nama Josef Kardinal Ratzinger dengan alamat Citta del Vaticano dan berpelat nomor CD 140 XG. (AFP/Rtr/BBC/hep)